Kamis, 24 November 2016

SATU ONS VERSUS SATU TON

Dalam perkuliahan kemarin saya bertanya kepada mahasiswa, siapakah diantara mereka yang suka menulis. Salah seorang menjawab, “Sebenarnya saya suka, Pak. Tetapi tulisan saya jelek”.
Saya katakan kepada mereka bahwa tidak ada tulisan yang jelek. Semua tulisan yang kita hasilkan adalah bagus. Hanya saja, kemungkinannya adalah tilisan itu tidak mudah dipahami atau tidak disukai oleh yang membacanya.
Salah satu permasalahan yang kita hadapi dan seringkali menjadi hambatan dalam hal pengembangan diri adalah adanya persepsi kita terhadap kemampuan kita sendiri. Seringkali kita mempersepsikan diri kita tidak mampu untuk melakukan sesuatu hal, padahal kita belum pernah mencobanya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu, termasuk terhadap kemampuan diri sendiri. Apabila persepsi demikian ini telah terbentuk dalam diri, maka untuk merubahnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan keinginan yang kuat dan pendidikan yang terus-menerus untuk merubahnya.
Robert T. Kiyosaki, dalam salah satu bukunya yang berjudul “Rich Kid Smart Kid” mengungkapkan bahwa “Untuk merubah satu ons persepsi, diperlukan satu ton pendidikan”. Maksudnya adalah bahwa apabila persepsi terhadap diri sendiri telah terbentuk sedemikian rupa sehingga mempengaruhi terhadap kemampuannya untuk mengembangkan diri, maka untuk merubahnya diperlukan pendidikan yang jumlahnya ribuan kali lipat.
Persepsi negatif terhadap diri sendiri ini biasanya muncul dalam ungkapan “Saya tidak bisa melakukannya” atau “Tulisan saya jelek” atau “Saya orang bodoh”. Persepsi demikian tentu tidak timbul secara tiba-tiba. Boleh jadi karena ungkapan-ungkapan seperti itu yang selalu didengarnya sejak kecil, sehingga terekam dalam benak.
Oleh karena itu, persepsi demikian itu harus dihilangkan terlebih dahulu. Peran orang tua dan guru sangat besar pada terbentuknya persepsi anak terhadap kemampuan diri sendiri.
Peran orang tua dan guru adalah mempengaruhi persepsi anak bahwa dia mempunyai kemampuan yang luar biasa.

MENUDUH TANPA BUKTI

Dalam suatu rubrik konsultasi, ada seseorang yang mengemukakan bahwa dia dituduh telah mencuri perhiasan milik rekannya. Tuduhan itu dilakukan sedemikian rupa sehingga dia tidak diberi ruang untuk melawan dan menjelaskannya. Padahal tuduhan itu tanpa didasari dan diikuti dengan bukti-bukti yang kuat.
Dituduh demikian, tentu dia tidak terima. Selain karena tuduhan itu tanpa didukung dengan bukti, juga karena dia memang tidak merasa mengambil barang milik rekannya tersebut. Karena itu, dia akan membawa kasus itu ke ranah hukum.
Menuduh merupakan perbuatan seseorang yang bersifat menyudutkan atau memojokkan orang lain dengan maksud agar orang yang dituduh itu mengakui telah melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadanya.
Kalau tuduhan itu disertai dengan bukti yang kuat, misalnya disaksikan setidaknya oleh dua orang, maka hendaknya kasus dilaporkan kepada kepolisian. Sekali-kali kita tidak boleh melakukan perbuatan main hakim sendiri. Jika hal itu dilakukan, maka pelaku main hakim sendiri ini yang justru akan diproses secara hukum.
Perilaku menuduh tanpa bukti ini sering kali kita temui dalam masyarakat. Seseorang dengan mudahnya menuduh orang lain, tanpa menyadari bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan melawan hukum. Perilaku demikian tidak hanya terjadi pada kalangan masyarakat tertentu saja. Bahkan, terkadang juga dilakukan oleh orang yang mempunyai status sosial yang tinggi dalam masyarakat.
Mari kita bayangkan sejenak, seandainya suatu saat kita dituduh oleh seseorang. Orang itu mengatakan bahwa kita sudah mengambil barang miliknya, padahal sebenarnya perbuatan itu tidak pernah kita lakukan. Tuduhan itu tentu akan sangat menyakiti perasaan dan menghina diri kita.
Rasa sakit karena dituduh mencuri memang tidak dirasakan secara fisik, tetapi secara mental. Perasaan terhina, tersinggung dan merasa harga diri yang dilecehkan, sebenarnya lebih sakit daripada sakit secara fisik. Apalagi kalau tuduhan itu diucapkan didepan orang banyak, tentu hal itu akan membuat nama baik kita tercemar.
Apabila tuduhan itu dilakukan langsung tanpa diketahui oleh orang lain, maka proses hukum akan menggunakan dasar pasal penghinaan ringan. Tetapi, bila tuduhan dilakukan secara terbuka dan disaksikan oleh orang banyak, maka akan diproses dengan dasar pasal pencemaran nama baik.
Berhati-hatilah….

BELAJAR MENULIS

Sejak lama saya suka membaca. Saya membaca apa saja, mulai dari buku, majalah, koran dan lainnya. Dengan membaca, saya dapat menikmati dan memperoleh pengetahuan serta pengalaman dari penulisnya.
Membaca buku tentang humor, saya akan tertawa sendiri. Membaca buku tentang traveling, pikiran saya ikut traveling juga dan menjadi segar sesudahnya. Begitu pula bila membaca buku sejarah, saya merasakan seolah-olah saya menjalani sendiri peristiwa-peristiwa sejarah itu.
Berikutnya, keinginan saya berubah, ingin bisa menulis dan menjadi penulis. Beberapa buku yang mengajarkan bagaimana cara menulis bagi pemula, saya beli dan coba dipraktekkan. Hingga bertahun lamanya, tetap tidak ada hasilnya. Memang tidak mudah. Tips dan strategi menulis dalam buku-buku itu tidak membuat saya bisa menulis.
Ketika itu saya berkesimpulan bahwa menulis itu tidak dapat dipelajari. Kemampuan menulis adalah bakat, bakat yang dibawa seorang anak sejak kelahirannya. Dengan begitu, penulis-penulis yang bukunya banyak dijual di toko buku itu adalah penulis yang memiliki bakat sejak lahir. Bukan karena mereka belajar menulis.
Kesimpulan itu tentu bukan tanpa alasan. Selama sekolah dulu, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, saya atau kita memang tidak memperoleh pelajaran tentang menulis ini, bagaimana menuangkan gagasan melalui tulisan. Boleh jadi karena materi itu tidak ada dalam kurikulum, atau mungkin juga karena guru-guru kita memang tidak dibekali untuk itu.
Ternyata kesimpulan saya itu salah belaka. Tidak ada kemampuan yang tidak dapat dipelajari. Yang diperlukan adalah keinginan yang kuat dan terus berlatih.
Satu hal yang menjadi penghambat adalah persepsi kita sendiri. Kita selalu mempersepsikan diri kita bahwa kita tidak bisa melakukannya. Oleh karenanya, hilangkan semua persepsi yang ada. kemudian ubah persepsi itu, yang awalnya tidak bisa menjadi pasti bisa.
Satu-satunya cara terbaik agar bisa menulis adalah dengan menulis. Terus berlatih menulis.