Kamis, 18 Januari 2018

Belajar Phitagoras

Seringkali anak-anak kita menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan gurunya. Apalagi bila tugas yang diberikan itu belum pernah diajarkan oleh sang guru. Disaat-saat yang demikian ini, semestinya orangtua tampil membantu anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Orangtua dituntut untuk menyegarkan kembali pelajaran sekolah dasar dulu, agar bisa membantu anak bila mereka menemukan kesulitan.
Seperti yang terjadi hari ini, tiba-tiba anak saya yang masih kelas enam meminta tolong untuk menyelesaikan PRnya.
"Pak, tolong ajari rumus Phitagoras. Saya punya PR tentang rumus Phitagoras itu".
"Sudah diajari sama gurunya apa belum?".
"Masih belum".
"Lha kok sudah dikasih PR tentang itu, wong belum diajarkan?".
"Iya, tadi mau diajari tapi waktunya tidak cukup, jadi PRnya disuruh kerjakan dulu sama bu guru".
Lalu saya meminta dia mengambil kertas dan pensil.
"Coba buat gambar segitiga siku-siku yang agak besar".
"Sudah, Pak"
"Ingat ya, rumus Phitagoras itu hanya berlaku untuk segitiga siku-siku saja, tidak untuk segitiga yang lain. Ada berapa sisi disitu?"
"Ada tiga, sisi datar, sisi tegak dan sisi yang miring".
"Iya, sekarang beri tanda, sisi datar dengan huruf a, sisi tegak dengan huruf b dan sisi miring dengan huruf c".
"Sudah. Terus gimana?".
"Rumus Phitagoras itu mengatakan panjang sisi miring dikuadratkan jumlahnya sama dengan panjang sisi datar dikuadratkan ditambah sisi tegak dikuadratkan. Kalau dibuat rumusnya adalah c2 = a2 + b2. Ngerti nggak?".
"Iya, tapi kalau yang diketahui sisi miringnya?".
"Tinggal dibalik saja rumusnya. Misalnya kalau yang dicari sisi datarnya, maka rumusnya menjadi a2 = c2 - b2".
"Iya ngerti. Itu hasilnya kan masih kuadrat, bagaimana menghilangkan kuadratnya?".
"Untuk menghilangkan kuadrat itu caranya dengan mengakarkan hasil yang diperoleh. Kalau hasilnya didapat 25, maka akar dari 25 adalah 5. Gimana, ngerti?".
"Iya ngerti Pak".
"Sekarang coba kerjakan PRnya. Nanti kalau ada kesulitan bilang ya...!"
Tak perlu waktu yang lama, kemudian dia pun telah menyelesaikan semua tugas-tugas PRnya...

Kamis, 28 Desember 2017

BERLATIH MENULIS

Banyak orang yang ingin bisa menulis. Banyak pula yang ingin jadi seorang penulis. Tentu saja. Selain karena bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya, banyak pula penulis yang kaya dari hasil tulisannya.
Bila membaca tulisan orang yang pandai menulis, seringkali kita terheran-heran dengan kemampuannya menulis. Kemampuannya dalam menyusun kata-kata bisa membuat kita hanyut dalam alur ceritanya.
Sebenarnya, kalau hanya sekedar menulis kita semua bisa melakukannya. Bertahun-tahun kita belajar di sekolah, sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan, kita sudah diajarkan untuk selalu menulis dan membaca. Bahkan hingga di bangku kuliahpun, menulis menjadi bagian pokok dalam pembelajaran.
Tetapi, sebagian besar kita selalu mengeluh tidak bisa menulis. Persoalannya adalah kita tidak terbiasa untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang kita pikirkan. Yang kita tulis selama ini adalah materi-materi pelajaran sekolah, bukan apa yang sedang kita pikirkan saat itu. Karena itu, kita menjadi tidak terbiasa untuk menuangkan gagasan-gagasan yang sebenarnya sudah menumpuk dalam pikiran kita.
Misalnya, ketika kita diminta untuk menulis sesuatu, apakah itu esai, cerita, karangan ataupun makalah. Seringkali tatkala hendak menuliskan kalimat pertama, jemari kita tak kunjung bergerak menulis. Hanya pikiran kita saja yang terus berputar-putar tanpa henti, padahal idenya sudah tersimpan dalam pikiran tetapi tak mampu terhubung kedalam tulisan.
Lalu, bagaimana caranya agar bisa menulis? Satu-satunya cara adalah dengan berlatih. Terus berlatih. Tak ada cara lain selain berlatih, apalagi cara-cara yang instan.
Tulisan ini saya buat sebagai wujud terus berlatih itu tadi...

MENDAMPINGI ANAK BELAJAR

Satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai orangtua adalah mendampingi anak-anak dalam belajar.
Banyak orangtua yang menyerahkan seluruh urusan belajar ini kepada sekolah. Ketika anak-anak sedang berada di sekolah tentu akan menjadi tanggung jawab pihak sekolah, tetapi diluar itu maka menjadi tanggung jawab orangtua sepenuhnya.
Soal belajar di rumah ini seringkali orangtua hanya sekedar menyuruh saja. Setelah itu, seolah tanggung jawab telah usai. Padahal anak-anak sangat perlu didampingi ketika mereka sedang belajar. Disamping sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kepada mereka, seringkali anak-anak membutuhkan bimbingan untuk memahami apa yang mereka pelajari itu.
Salah satu contohnya, kemarin pada saat membaca buku pelajarannya, tiba-tiba anak saya yang masih kelas enam bertanya tentang satu istilah yang artinya belum dia ketahui.
"Pak, hak paten itu apa?"
"Di bukunya apa tidak ada penjelasannya?".
"Tidak ada".
"Hak paten itu adalah hak yang diberikan kepada seorang penemu dalam bidang teknologi", saya mencoba menjelaskan dengan bahasa yang disederhanakan agar bisa dipahaminya. "Ngerti nggak...?".
"Nggak"
"Begini contohnya, Habibie itu pernah menemukan salah satu teknologi dalam bidang pembuatan pesawat terbang. Karena penemuannya itu maka dia punya hak paten".
"Oh begitu.."
Begitulah, apabila anak-anak kita belajar sendiri tanpa didampingi seringkali ketika mereka menemui kesulitan dalam memahami istilah-istilah yang sulit, tidak ada yang membantunya. Bila artinya saja mereka tidak tahu bagaimana mungkin mereka bisa memahami apa yang dimaksud oleh buku pelajaran itu.
Selalu dampingi anak-anak saat mereka belajar...