Senin, 28 November 2016

SEMUA ANAK “CERDAS”

Banyak orang tua yang menganggap anaknya kurang pandai di sekolah. Anggapan ini biasanya karena nilai-nilainya di sekolah tidak terlalu bagus. Apalagi jika dibandingkan dengan anak-anak yang selalu memperoleh peringkat terbaik di kelasnya. Tetapi benarkah anak-anak itu bodoh?
Kita tahu, setiap anak yang dilahirkan, secara alamiah senang belajar. Seorang anak akan mulai belajar berbicara, berdiri, berjalan dan kemudian berlari, dalam rentang waktu yang cepat. Tidak ada anak yang sedang belajar berdiri terjatuh, kemudian menolak bangun lagi. Yang selalu kita lihat adalah anak yang mencoba berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi dan akhirnya mampu berdiri dengan kuat. Selanjutnya, anak mulai belajar berjalan dan akhirnya berlari.
Anak-anak memiliki kecintaan alamiah untuk belajar. Menjadi tugas yang sangat penting bagi orang tua adalah untuk menjaga dan merawat agar kecintaan mereka untuk belajar itu tetap hidup dan berkembang.
Masalahnya, tidak semua anak menaruh minat pada pelajaran di sekolah. Kita tahu dan merasakan dulu ketika masih di bangku sekolah, ada anak yang lebih suka menggambar daripada mendengarkan guru yang sedang berbicara didepan kelas. Halaman buku lebih banyak berisi gambar-gambar daripada catatan pelajaran. Ada anak yang lebih senang olahraga daripada belajar sejarah. Ada yang senang menyanyi dan menari daripada hitung-hitungan matematika. Ada pula yang lebih senang berbicara sendiri daripada mendengarkan guru yang sedang menerangkan pelajaran.
Sebenarnya, minat anak-anak itu adalah bentuk kecerdasan juga. Hanya saja, sistem pendidikan kita hanya mengakui satu bentuk kecerdasan saja, yaitu kecerdasan intelektual atau intellectual quotient/IQ. Anak-anak yang memiliki kecerdasan lain selain kecerdasan intelektual, kecerdasannya akan diabaikan. Anak yang memiliki kecerdasan lain ini akan merasa bodoh serta dianggap kurang pandai karena dibanding-bandingkan dengan anak yang memiliki kecerdasan intelektual lebih tinggi.
Para ahli mengemukakan bahwa ada beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, diantaranya :
Kecerdasan linguistik-verbal, kecerdasan ini yang dipakai oleh system pendidikan untuk mengukur IQ seseorang. Orang yang memiliki kecerdasan ini merupakan seseorang yang pandai mengolah kata-kata saat berbicara maupun menulis.
Kecerdasan numeric, Kecerdasan ini adalah tipe orang yang memiliki kecerdasan dalam hal angka-angka dan logika. Kecerdasan spasial, kecerdasan ini dimiliki oleh orang-orang kreatif.
Kecerdasan fisik, kecerdasan ini dimiliki oleh para atlet dan penari. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu mengekspresikan gagasan dan perasaan. Mereka menyukai olahraga dan berbagai kegiatan yang mengandalkan fisik.
Kecerdasan musical, Mereka yang termasuk ke dalam tipe ini mampu mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk musik dan suara.
Kecerdasan interpersonal, Orang dengan kecerdasan ini biasanya mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Mereka dapat dengan mudah berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.
Kecerdasan intrapersonal, kecerdasan ini sering disebut kecerdasan emosional. Orang tipe ini memiliki kecerdasan pengetahuan akan diri sendiri dan mampu bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri.
Kecerdasan lingkungan, kecerdasan ini berkaitan dengan hal-hal disekeliling mereka. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu memahami alam dan menggunakannya secara produktif.
Oleh karenanya, orang tua yang anaknya tidak menaruh minat yang besar pada pelajaran sekolah, janganlah mudah mengatakan bahwa anak itu bodoh atau kurang pandai.
Tugas orang tua adalah menemukan kecerdasan alamiah anak itu dan mendorongnya agar tumbuh dan berkembang.

Minggu, 27 November 2016

ORANG SUKSES

Tadinya saya agak ragu ketika hendak menulis tentang topik ini. Sebagian besar orang menganggap bahwa yang disebut sukses itu bila sudah memiliki harta yang banyak, rumah mewah, mobil mewah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan materi. Seandainya sukses itu diukur hanya dengan banyaknya harta, maka saya termasuk orang yang tidak sukses.
Tetapi saya memiliki pendapat sendiri tentang arti sukses. Saya yakin setiap orang mempunyai definisi sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan dan lingkungannya masing-masing.
Seandainya sukses itu diukur dengan jumlah harta yang dikumpulkannya, tentu seorang koruptor juga termasuk orang yang sukses. Seorang pengemplang pajak juga akan tergolong sebagai orang yang sukses. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang itu, yang dengan mudah memperoleh uang banyak, bila mereka tidak tertangkap oleh aparat hukum.
Kalau hanya orang kaya harta saja yang dianggap sukses, lalu bagaimana dengan orang-orang yang bekerja siang malam untuk mengumpulkan harta, hingga tidak ada waktu untuk memeluk dengan penuh kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya. Tidak sempat sungkem kepada orang tuanya, tidak mengenal siapa tetangganya. Padahal mereka itu tinggal di rumah-rumah mewah, hartanya melimpah, tetapi tidak ada waktu untuk menikmatinya. Apakah mereka ini juga termasuk orang yang sukses.
Sukses bagi saya adalah mampu memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang yang menerima manfaat dari diri seseorang, maka semakin sukseslah orang itu. Begitu pula sebaliknya, bila kehidupannya tidak memberikan manfaat apapun bagi orang lain maka dia tidak termasuk orang sukses. Dia orang gagal.
Mampu memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang tentu harus dimulai dari diri sendiri. Tidak bisa disebut sukses bila masih bergantung kepada orang lain, apalagi menjadi benalu bagi orang lain. Seseorang yang sukses harus mampu mencukupi dirinya sendiri, dimulai dari cukup menghidupi diri sendiri secara ekonomi. Kemudian meningkat lagi, mencukupi keluarga dan orang-orang yang ada dalam tanggung jawabnya.
Selebihnya, tidak harus memberi manfaat terbatas secara materi saja. Manfaat yang diberikan disesuaikan dengan bidang masing-masing orang. Orang yang kaya harta tentu saja akan memberikan sebagian hartanya. Seorang pejabat akan menggunakan kewenangannya untuk mensejahterakan rakyatnya. Seorang ilmuwan akan memberi ilmunya, seorang seniman akan memberikan keindahan pada kehidupan banyak orang.
Demikian pula seorang agamawan akan memberikan ketenangan hati ditengah-tengah kekacauan kehidupan orang-orang yang memperebutkan kenikmatan duniawi.
Lalu, bagaimana kalau kita tidak punya sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain?. Tersenyumlah, berilah kesejukan kepada semua orang. Itu sudah cukup membuat orang bahagia.
Coba kita hitung-hitung, selain orang tua kita, siapakah yang paling berjasa dan memberi manfaat paling banyak kepada kita?. Tentu jawabannya adalah para Guru. Merekalah yang membekali kita dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang sangat berguna untuk memilih apa yang kita inginkan dimasa depan. Merekalah orang sukses sebenarnya.
Kini, saatnya kita ucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru kita.
"Selamat Hari Guru….. Cikgu…!!".

TEPAT WAKTU

Persoalan ini sebenarnya cukup klasik dan dialami oleh banyak orang. Persoalan tepat waktu menjadi sesuatu yang sulit sekali untuk dilakukan. Karena begitu masifnya persoalan ini sampai-sampai ada istilah “jam karet”, julukan yang biasa ditujukan kepada mereka yang selalu terlambat.
Kita tentu pernah mengalami kejadian menunggu seseorang yang telah berjanji bertemu pada waktu yang telah disepakati, tetapi hingga terlewat lebih berpuluh menit, orang yang ditunggu belum muncul juga. Atau kegiatan rapat yang telah ditentukan waktunya, namun belum juga dimulai karena masih menunggu pimpinan yang belum datang.
Tidakkah terpikir oleh orang yang sering terlambat itu, apalagi yang tidak menepati janji itu, bahwa dirinya sedang ditunggu dengan gelisah oleh seseorang. Berapa banyak kegiatan yang dibatalkannya ketika dia berjanji dengan anda. Berapa banyak waktu yang dibuangnya hanya untuk menunggu anda. Berapa banyak kegiatan yang mentinya dapat dilakukannya jika tidak harus menunggu anda?.
Ada yang mengatakan bahwa persoalan tepat waktu ini adalah persoalan budaya. Budaya kita memang sering terlambat. Saya tidak setuju dengan pendapat ini. Budaya adalah hasil kreasi manusia, yang dapat berubah dan berganti sesuai dengan tuntutan perkembangan manusia itu sendiri. Jika kita menginginkan persoalan tepat waktu ini menjadi budaya kita, maka mau tidak mau kita harus menciptakan kebiasaan itu secara terus-menerus. Sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten dalam waktu yang lama, maka hal itu akan berubah menjadi budaya.
Tidak sedikit panduan moral dan dalil-dalil agama yang dapat digunakan untuk membimbing kita menjadi orang yang tepat waktu. Demikian pula, tidak diperlukan kecerdasan yang terlalu tinggi untuk memberi argumentasi logis terhadap pentingnya tepat waktu ini.
Cukup banyak dalil-dalil agama yang diajarkan kepada kita tentang hal ini. Kewajiban shalat lima waktu dengan mesti mengikuti waktu-waktu yang telah ditentukan, dapat kita jadikan acuan pentingnya kita tepat waktu. Kita tidak akan melaksanakan shalat magrib sebelum betul-betul telah masuk waktu magrib. Demikian pula untuk shalat-shalat lainnya.
Penentuan waktu yang lebih ketat lagi, dapat kita pelajari dari pelaksanaan puasa. Ketika sahur, kita tidak berani makan sahur melewati waktu imsak meskipun hanya semenit saja. Demikian pula ketika berbuka puasa. Meskipun makanan telah terhidang dihadapan kita, kita tidak akan berani berbuka puasa sebelum azan magrib pertanda masuknya waktu berbuka, berkumandang.
Ketika sedang berpuasa, kita sangat ketat dalam persoalan waktu ini. Tidak berani lebih cepat atau terlambat sedikitpun. Selalu tepat waktu.
Tetapi mengapa dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita tidak mencerminkan perilaku yang demikian. Kita lebih sering terlambat. Apa yang salah dengan kita, atau apa yang salah dengan cara pendidikan kita?. Barangkali kita terlalu formalistis dalam soal ibadah, sehingga tidak memahami dan memaknai dengan sungguh-sungguh apa sebenarnya pelajaran yang mesti kita ambil.
Bila disekitar kita dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tepat waktu, maka menjadi orang yang tepat waktu akan memberikan keunggulan yang luar biasa kepada kita.
Tepat waktu adalah hadiah istimewa dalam setiap pertemuan, meskipun tak ada yang menganggapnya sebagai hadiah….