Rabu, 15 Maret 2017

LEVEL KEBAHAGIAAN KITA


Seringkali kita merasa bahwa bahagia itu apabila kita memiliki harta yang banyak. Seandainya kita punya harta sebanyak yang dimiliki oleh Raja Salman dari Saudi itu, maka kita akan merasa bahagia dan tidak menghadapi persoalan kehidupan lagi.
Tetapi apakah memang demikian?. Memang benar. Harta yang banyak adalah salah satu sumber kebahagiaan. Seandainya saja kita tidak mempunyai harta sama sekali, maka kehidupan ini akan terasa sangat sulit untuk bahagia. Karena memang kebahagiaan dalam kehidupan ini perlu dibiayai. Namun demikian, kebahagiaan yang dirasakan karena keberadaan harta benda merupakan kebahagiaan yang paling dasar. Masih banyak lagi tingkat-tingkat kebahagiaan diatasnya.
Tingkat-tingkat kebahagiaan ini, telah banyak ditulis oleh para filosof dan ulama sejak lama. Dijelaskan bahwa setidaknya ada lima macam atau tingkat kebahagiaan yang dapat digapai dan dirasakan oleh manusia. Tidak hanya satu macam kebahagiaan saja tetapi lebih banyak macam kebahagiaan yang dapat dinikmatinya. Hal ini menyadarkan kita betapa besarnya karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia.
Kebahagiaan tingkat pertama adalah kebahagiaan fisik atau sensual (physical happiness). Kebahagiaan fisik atau sensual merupakan kebahagiaan yang timbul karena kesenangan terhadap harta atau materi yang dimilikinya. Kebahagiaan jenis ini bagi banyak orang dianggap sebagai satu-satunya kebahagiaan. Apabila sudah memiliki banyak harta pasti hidupnya akan bahagia.
Memang, harta benda diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Kesemua itu mensyaratkan dimilikinya benda-benda material oleh seseorang untuk memenuhinya. Tentu saja perolehan harta benda tersebut harus melalui cara-cara yang diperbolehkan dan tidak melanggar hak orang lain. Harta benda juga diperlukan untuk menopang diperolehnya tingkat-tingkat kebahagiaan selanjutnya. Apabila kebahagiaan tingkat pertama ini belum terpenuhi, maka akan sulit untuk menggapai kebahagiaan yang lebih tinggi.
Perlu diingat juga bahwa harta benda semata tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Agar harta yang dimiliki dapat membahagiakan pemiliknya, diperlukan syarat-syarat lain, seperti menghindari sikap berlebih-lebihan dalam kesenangan harta atau materi. Hal ini karena kesenangan materi hanya bersifat sementara dibandingkan dengan kesenangan yang diperoleh dari kebahagiaan yang non materi.
Oleh karena itu, para ulama dan filosof menekankan pola hidup yang sederhana dalam semua aspek kehidupan. Disamping itu, kesenganan duniawi juga kesenangan yang melalaikan. Sebagai contoh dapat dikemukakan, kesenagan makan. Kesenangan makan bergantung pada adanya rasa lapar, setelah rasa lapar hilang maka kesenangan terhadap makananpun akan menjadi hilang. Apabila dipaksakan maka yang diperoleh bukan lagi kesenangan tetapi justru akan menimbulkan penyakit.
Kebahagiaan tingkat kedua adalah kebahagiaan mental (mental happiness). Kebahagiaan mental yang dimaksud disini adalah manusia memiliki kesenangan terhadap keindahan yang lebih abstrak, seperti kesenangan terhadap lukisan dan nyanyian. Selain itu yang termasuk kebahagiaan mental adalah kemampuan berimajinasi atau berkhayal.
Kenikmatan berimajinasi ini menimbulkan kebahagiaan yang lebih tinggi daripada kebahagiaan atau kesenangan fisik. Berkhayal atau membayangkan sesuatu yang indah dapat menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang. Dari berkhayal ini nantinya akan menghasilkan karya-karya dalam bentuk fisik, seperti bangunan gedung yang merupakan buah karya seorang arsitek, atau lukisan yang merupakan buah karya seorang pelukis.
Kebahagiaan berikutnya adalah kebahagiaan intelektual (intellectual happiness). Kebahagiaan ini diperoleh manusia dari penguasaan atas ilmu pengetahuan. Dalam Al-Qur’an sendiri pernah ditanyakan, “Apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?”. Jawabnya tentu saja tidak. Perbedaannya sama dengan orang yang melihat dengan orang yang buta. Orang berilmu sama dengan orang yang mampu melihat.
Orang yang berilmu terkadang tidak merasakan kebahagiaan yang diperoleh dari ilmunya, sampai apabila dia berada dalam keadaan tersesat dan tidak tahu arah yang dituju. Maka pada saat itulah dirasakan kebagiaan karena ilmunya. Selain itu kebahagiaan intelektual lebih langgeng dari pada kebahagiaan fisik. Misalnya kesenangan makan ada kenyangnya, sedangkan kebahagiaan intelektual tidak akan ada rasa kenyangnya.
Kebahagiaan yang lebih tinggi dari kebahagiaan intelektual adalah kebahagiaan moral (moral happiness). Kebahagiaan moral merupakan kelanjutan dari kebahagiaan intelektual. Kebahagiaan moral diperoleh dari mengamalkan ilmu yang diperolehnya secara teoritis dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, mengetahui bahwa bersyukur dan bersabar itu baik, bagi sebagian orang akan menimbulkan kebahagiaan.
Namun, apabila seseorang yang mengetahui bahwa bersyukur dan bersabar itu baik akan merasakan lebih berbahagia ketika orang tersebut telah melaksanakan syukur dan sabar dalam kehidupan nyata sehari-hari. Orang yang baik adalah orang yang berperilaku baik, bukan hanya mengetahui suatu perilaku tertentu itu baik. demikian pula orang yang akan merasakan kebahagiaan adalah orang yang menjalani kehidupan yang baik, tidak hanya mengetahui jalan hidup yang baik. inilah kebahagiaan moral.
Terakhir, merupakan kebahagiaan tertinggi dari seluruh tingkat-tingkat kebahagiaan adalah kebahagiaan spiritual (spiritual happiness). Kebahagiaan spiritual dapat dicapai ketika manusia mampu menjalin hubungan dengan Tuhannya. Hubungan dengan Tuhan tersebut hanya dapat dicapai dengan cara pengabdian atau ibadah. Tuhan adalah tempat kembali dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya.
Apabila tujuan terakhir tiap diri manusia adalah dekat dengan Tuhannya, maka kebahagiaan tertinggi dirasakan oleh manusia adalah apabila ada hubungan dengan Tuhannya. Kebahagiaan dekat dengan Sang Pencipta inilah yang diamksud dengan kebahagiaan spiritual.
Apabila semua aspek kebahagiaan tersebut telah terpenuhi maka kebahagiaan tertinggi telah dicapai. Mari kita bersikap rendah hati untuk menilai diri sendiri ditingkat mana kebahagiaan kita berada saat ini.
Jangan-jangan kita masih di level yang pertama....

Senin, 06 Maret 2017

DONOR DARAH, MENYELAMATKAN KEHIDUPAN

Ketika awal-awal Ibu menderita sakit pada tahun 2007 lalu, saya pulang menjenguknya. Saat itu Ibu dirawat di RSU Padang Panjang, Sumatera Barat. Beliau dirawat disana agar lebih dekat dengan tempat tinggal kakak saya. Beberapa hari kemudian, keadaannya kemudian mulai membaik, saya pun pamit kembali ke Jawa.
Tak lama setelah tiba di rumah, saya kembali mendapat kabar bahwa keadaan Ibu semakin parah dan harus dirujuk ke RS. M. Jamil, Padang. Dokter mengatakan bahwa Ibu menderita sakit Leukemia. Ketika itu kami tidak tahu apa itu Leukemia. Belakangan baru saya ketahui, Leukemia atau kanker darah terjadi akibat produksi sel darah putih yang terlalu cepat. Lalu Dokter menyarankan agar Ibu di transfusi darah.
Kakak saya segera mendatangi PMI untuk memperoleh darah yang diperlukan. Sayangnya, stok darah yang sesuai di PMI waktu itu sedang menipis. Sedangkan kebutuhan untuk transfusi cukup banyak. Selebihnya, harus mencari tambahan dengan cara membawa pendonor sendiri.
Lalu saudara-saudara saya berusaha mencari pendonor sendiri, dengan cara mendatangkan orang-orang dari desa kami ke Kota Padang untuk dicek darahnya untuk didonorkan. Saya membayangkan betapa beratnya pekerjaan itu.
Jarak desa kami dengan Kota Padang lebih dari tiga ratus kilometer. Mendatangkan orang-orang untuk mendonorkan darahnya dengan jarak sejauh itu, bukan pekerjaan yang ringan. Masalahnya lagi, tidak semua orang yang didatangkan itu darahnya cocok dan layak untuk didonorkan.
Saya sangat menghargai dan menaruh hormat yang sangat tinggi atas usaha dan kerja kerasa saudara-saudara saya untuk menolong dan menyelamatkan Ibu. Saya sendiri, yang berada jauh terpisah ribuan kilometer, tak banyak yang dapat dilakukan. hanya mampu berdoa.
Mendapat kabar bahwa keadaan Ibu semakin kritis, saya putuskan segera pulang kembali. Harapan saya saat itu setidaknya, dapat menemani Ibu diakhir-akhir hayatnya. Namun apa daya, perjalanan jauh tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan.
Akhirnya, kehendak Allah jua yang berlaku. Keadaan ibu semakin kritis dan tak lama kemudian, Ibu pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Saya tak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.
Hari sudah menjelang malam ketika saya tiba di rumah, ketika orang-orang sedang membacakan tahlil untuk mendoakan Ibu. Allahumaghfirlaha, Warhamha...
Sepanjang perjalanan ketika itu saya terus berfikir, seandainya lebih banyak orang yang berdonor dengan sukarela, tentu stok darah di PMI tidak sampai menipis. Seandainya stok darah tercukupi, tentu beban saudara-sudara saya tidak mesti sekeras itu untuk mencari pendonor. Seandainya, transfusi itu dapat terus dilakukan, tentu masih ada harapan Ibu untuk bertahan. Setidaknya, kepergiannya tidak secepat itu.
Sejak saat itu, saya bertekad untuk menjadi pendonor darah sukarela. Pendonor sukarela secara rutin, agar kejadian yang menimpa keluarga kami tidak terjadi pada orang lain.
Hingga kini, tekad itu masih tetap kuat dan terlaksana dengan istiqomah.
Mari berdonor untuk menyelamatkan kehidupan....

JANGAN BANDINGKAN

Ada kalanya kita merasa begitu lelah. Lelah karena merasa sudah bekerja keras dalam membangun kehidupan agar lebih baik. Tetapi keadaan justru begitu-begitu saja, belum seperti apa yang kita inginkan.
Apalagi bila kita melihat orang-orang disekitar kita, mereka terlihat sudah melesat mendahului kita. Karirnya lebih baik, harta yang dikumpulkannya lebih banyak dan penampilannya menunjukkan kesuksesan secara materi.
Dalam keadaan demikian, banyak orang yang menyalahkan keadaan. Seolah-olah keadaan tidak memberinya pilihan-pilihan kehidupan. Bahkan hingga menyesali keadaan, “Mengapa saya dilahirkan dalam keadaan seperti ini?”, begitu fikirnya.
Setiap orang terlahir dengan keadaannya masing-masing. Kita memang tidak bisa memilih dari siapa kita dilahirkan. Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, bagaimana keadaan orang tua kita.
Saat mulai tumbuh besar, kitapun mendapatkan pendidikan yang berbeda. Masing-masing dibentuk dan ditempa oleh lingkungan yang berbeda. Begitu pula saat kita dewasa, kita akan menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, pribadi yang unik dan tak ada duanya. Karena itu, setiap pribadi tidak bisa dibandingkan dengan pribadi yang lain. Karena memang bukan bandingannya dan tidak perlu dibandingkan.
Hanya saja, kita semua memiliki kesempatan yang sama. Sama-sama beranjak dari keadaan yang apa adanya. Kita sendirilah yang mengendalikan bahtera kehidupan akan menuju. Jangan bandingkan diri kita dengan diri orang lain, jangan bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Bandingkan saja diri kita sekarang dengan kita yang dulu. Seberapa besar kita tumbuh, seberapa jauh kita mengalami kemajuan.
Seberapa banyak pengetahuan kita tumbuh, berapa banyak kesabaran kita mengalami kemajuan.
Berapa kuat kita mampu mengendalikan emosi, berapa besar intelektualitas kita mengalami kemajuan.
Berapa besar semangat kita tumbuh, berapa jauh rasa rendah hati kita mengalami kemajuan..