Kamis, 28 Desember 2017

MENDAMPINGI ANAK BELAJAR

Satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai orangtua adalah mendampingi anak-anak dalam belajar.
Banyak orangtua yang menyerahkan seluruh urusan belajar ini kepada sekolah. Ketika anak-anak sedang berada di sekolah tentu akan menjadi tanggung jawab pihak sekolah, tetapi diluar itu maka menjadi tanggung jawab orangtua sepenuhnya.
Soal belajar di rumah ini seringkali orangtua hanya sekedar menyuruh saja. Setelah itu, seolah tanggung jawab telah usai. Padahal anak-anak sangat perlu didampingi ketika mereka sedang belajar. Disamping sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kepada mereka, seringkali anak-anak membutuhkan bimbingan untuk memahami apa yang mereka pelajari itu.
Salah satu contohnya, kemarin pada saat membaca buku pelajarannya, tiba-tiba anak saya yang masih kelas enam bertanya tentang satu istilah yang artinya belum dia ketahui.
"Pak, hak paten itu apa?"
"Di bukunya apa tidak ada penjelasannya?".
"Tidak ada".
"Hak paten itu adalah hak yang diberikan kepada seorang penemu dalam bidang teknologi", saya mencoba menjelaskan dengan bahasa yang disederhanakan agar bisa dipahaminya. "Ngerti nggak...?".
"Nggak"
"Begini contohnya, Habibie itu pernah menemukan salah satu teknologi dalam bidang pembuatan pesawat terbang. Karena penemuannya itu maka dia punya hak paten".
"Oh begitu.."
Begitulah, apabila anak-anak kita belajar sendiri tanpa didampingi seringkali ketika mereka menemui kesulitan dalam memahami istilah-istilah yang sulit, tidak ada yang membantunya. Bila artinya saja mereka tidak tahu bagaimana mungkin mereka bisa memahami apa yang dimaksud oleh buku pelajaran itu.
Selalu dampingi anak-anak saat mereka belajar...

SI-MBOK

Bagi orang Jawa, terutama yang di desa-desa, ”Mbok” atau “Simbok” adalah kata sapaan kepada orang tua perempuan, ibu. Ada yang mengartikan kata mbok itu sebagai “seng tombok”, maksudnya orang yang selalu tombok, menutupi kekurangan, melunasi dan membuat sempurna terhadap kekurangan anaknya.
Kami sekeluarga menggunakan kata Mbok untuk memanggil Ibu. Meskipun kami tidak dilahirkan di Jawa, tetapi di lingkungan kami semuanya orang Jawa dan menggunakan bahasa Jawa, Kromo Ngoko. Tentu saja bahasa Jawa yang kami gunakan adalah bahasa Jawa yang diucapkan sehari-hari, begitu pula tata bahasanya. Kami tidak pernah dapat pelajaran bahasa Jawa waktu sekolah.
Di desa saya dulu, hampir semua orang memanggil ibunya dengan kata Mbok. Ada juga yang menggunakan kata “Emak”, tetapi hanya sebagian kecil saja. Panggilan ini biasanya dipadankan dengan “Pak” untuk memanggil orang tua laki-laki. Dalam pemakaian sehari-hari biasanya kata mbok ditambah dengan akhiran “e”, sehingga menjadi “Mbok-e”. Misalnya untuk menanyakan dimana keberadaan ibunya digunakan kalimat “Mbok-e tindak menyang ngendi, Le?”, yang artinya “Ibu pergi kemana, Nak?.
Karena digunakan oleh orang-orang desa, panggilan mbok ini menyiratkan sifat kesederhanaan, keluguan dan tidak neko-neko. Namun disisi lain juga menunjukkan sikap yang gigih, pekerja keras dan berani.
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti kata mbok sebagai 1. kata sapaan (ragam kromo ngoko) terhadap wanita; 2. kata sapaan terhadap orang tua wanita; ibu; 3. kata sapaan terhadap wanita tua yang kedudukan sosialnya lebih rendah daripada yang menyebutnya.
Dalam perkembangannya, kata mbok sudah banyak berubah maknanya. Seperti arti ketiga dari kata mbok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diatas, mbok lebih dipahami dan digunakan untuk kata sapaan terhadap wanita tua yang kedudukan sosialnya lebih rendah daripada yang menyebutnya. Seperti dalam film dan sinetron-sinetron yang sering ditayangkan di televisi, panggilan mbok selalu tertuju pada seseorang yang berwujud sebagai pembantu rumah tangga. Mereka biasanya ditampilkan dalam bentuk perempuan tua yang lugu dan selama berpuluh tahun mengabdi sebagai pembantu secara terus-menerus.
Apakah anak-anak masa sekarang masih menggunakan kata mbok untuk memanggil ibu mereka? Atau apakah ibu-ibu muda di desa-desa itu kini masih mengajarkan panggilan mbok kepada anak-anaknya? Entahlah… mungkin saja masih ada. Mbok memang kalah keren dibanding Ibu, apalagi mama-papa, mami-papi...

Selasa, 14 November 2017

SEHAT DIMASA TUA

Saya pernah punya pengalaman memiliki orang tua yang mengalami sakit dimasa tuanya. Ibu saya menderita sakit yang cukup lama, sebelum beliau dipanggil oleh Sang Pencipta. Kami telah berusaha semampu kami untuk mencari kemungkinan pengobatan agar beliau terlepas dari penyakitnya itu, namun usaha itu ternyata belum membuahkan hasil.
Sebaliknya, saya juga memiliki orang tua yang masih dalam keadaan sehat wal’afiat diusianya yang sudah uzur. Beliau masih bisa beraktifitas seperti biasa tanpa bergantung kepada orang lain. Tentu saja, kami bersyukur dan selalu mendoakan semoga orang tua kami tetap sehat hingga akhir hayatnya kelak.
Kita semua pasti menginginkan agar secara fisik dan mental kita selalu sehat sampai tua. Soal datangnya kematian itu persoalan lain, kita tidak pernah mengetahui kapan datangnya. Satu hal yang pasti adalah bahwa kematian itu pasti akan datang. Yang penting bagi kita adalah begaimana kita menjalani hari-hari tua kita nantinya agar selalu sehat dan mampu menikmati kebahagiaan itu. Bagaimanapun, persoalan kesehatan itu menjadi tanggung jawab kita sendiri untuk menjaganya.
Banyak orang yang bekerja begitu keras, hingga tak lagi dihiraukannya kelelahan tubuhnya. Berangkat bekerja sejak pagi hari, pulangnya hingga malam, bahkan hingga dini hari. Tak disadarinya bahwa tubuhnya mempunya hakatasnya untuk dipenuhi, hak untuk beristirahat. Barangkali karena tuntutan kehidupan yang memaksanya untuk bekerja begitu kerasnya. Tak lagi dirasakannya tubuhnya yang mulai ringkih dimakan usia dan kelelahan.
Tetapi ada pula yang menyia-nyiakan kesehatannya dengan perilaku yang sia-sia pula. Begadang yang tiada perlunya, mengkonsumsi minuman keras berlebihan hingga menjadi pecandu narkoba, adalah beberapa contoh perilaku yang sia-sia. Perilaku yang melenyapkan nikmat sehat yang telah dianugerahkan kepadanya. Mungkin saja mereka menikmati kesenangan semu saat masih muda, namun akibat yang akan dideritanya adalah sepanjang sisa hidupnya kelak.
Bagi orang yang mampu secara materi, mungkin saja akan mengatakan bahwa kalau badannya sakit dia masih memiliki uang untuk berobat. Dia mampu membayar dokter-dokter yang ahli dalam mengobati penyakitnya, atau dia mampu mempunyai uang untuk membeli peralatan kesehatan yang canggih agar menjadikannya sehat kembali.
Tetapi kita mesti sadar, bahwa sekaya apapun kita, sebanyak apapun uang kita, itu tidak akan mampu menggantikan rasa sakit. Sesetia apapun pasangan kita, seberbakti apapun anak-anak kita, dan sebanyak apapun sahabat kita, semua itu tidak ada yang mampu menggantikan rasa sakit yang kita derita. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menemani, menghibur dan mengusahakan pengobatan saja, namun tak dapat menggantikan rasa sakit kita. Kita sendirilah yang akan merasakannya.
Karena itu, jagalah kesehatan kita selagi masih muda, agar kita tetap sehat dan berbahagia dimasa tua kelak.
Semoga…!