Jumat, 24 Maret 2017

BEGADANG

Sejak dulu, saya tidak suka begadang. Saya begadang hanya kalau ada perlunya saja. Bukan kerena mengikuti nasehat dalam lagunya Bang Rhoma, tetapi karena itu pilihan saya. Pilihan dengan pertimbangan logis.
Setelah seharian bekerja, menguras tenaga dan pikiran, pasti akan timbul rasa lelah dan kantuk. Lelah dan kantuk ini adalah tanda bahwa tubuh kita tidak mampu lagi kita suruh bekerja lebih banyak. Dia memerlukan istirahat. Tubuh kita juga mempunyai hak untuk beristirahat, agar pada saat kita membutuhkannya kembali untuk memulai hari yang baru, keadaannya sudah kembali segar.
Setiap hari, sebelum jam sepuluh malam, biasanya saya sudah istirahat, tidur. Kalau disiang harinya aktifitas fisik banyak dilakukan, seperti berolah raga, waktu istirahat malam menjadi lebih cepat lagi. Kebiasaan ini akhirnya diikuti juga oleh anak-anak.
Dengan istirahat yang cukup, keesokan harinya bisa bangun lebih awal. Bangun dengan badan yang segar. Memulai aktifitas juga bisa lebih awal. Anak-anak harus sudah berangkat sekolah pukul enam pagi. Bagi kami tidak ada kamus “terlambat masuk sekolah karena terlambat bangun”.
Apabila berangkatnya lebih lambat sedikit saja, jalanan sudah sangat padat. Puncak kepadatan lalu lintas terjadi pada jam-jam itu. Semua kendaraan orang yang berangkat ke kantor atau mengantar anak sekolah, menumpuk di jalanan pada waktu yang sama.
Dalam situasi seperti itu, yang terjadi biasanya adalah saling serobot antar sesama pengendara. Masing-masing memacu kendaraannya lebih cepat dan ingin segera tiba di tujuan lebih dahulu, tanpa mempedulikan keselamatan pengendara lain. Keadaan seperti ini tentu saja sangat membahayakan keselamatan dan tidak jarang terjadi kecelakaan. Saya tidak ingin itu terjadi kepada saya dan keluarga saya.
Saya tidak ingin menyalahkan keadaan itu. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya tidak mampu mengendalikan keadaan itu, tetapi saya memiliki kendali sepenuhnya terhadap diri saya agar terhindar dari keadaan itu. Saya masih punya pilihan, dengan berangkat lebih pagi. Dan pilihan itu yang saya ambil.

Rabu, 15 Maret 2017

NASEHAT ULANG TAHUN

Putriku, kini kau telah dewasa. Kini kau bisa menentukan sendiri apa yang menjadi pilihanmu. Orang tuamu tak bisa lagi memaksamu untuk mengikuti kemauannya, bila itu tak kau inginkan. Tetapi bila kau belum sanggup memilihnya, kami akan membantu memilihkannya untukmu. Kami akan dengan senang hati membantu dan mendukungmu.
Kami menyadari bahwa kebaikan itu hanya bisa dipaksakan ketika kau masih anak-anak dulu. Tetapi bagi orang yang sudah dewasa, tak bisa lagi dipaksakan. Kebaikan bagi orang dewasa adalah pilihan. Kami yakin, kau akan memilih yang terbaik untukmu, untuk kebaikan masa depanmu. Karena kami mengenalmu sepenuhnya.
Ingatlah, Kehidupan ini tidak pernah mudah. Semuanya harus diperjuangkan dengan kerja keras. Tak mungkin dapat mengandalkan koneksi maupun relasi, karena memang kami tak memilikinya. Satu-satunya yang dimiliki adalah kemauan dan semangat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.
Masa depan kini ada di tanganmu. Dirimu sendiri yang menentukan kemana bahtera kehidupan akan kau arahkan. Engkaulah yang menjadi nakhoda dalam bahtera kehidupanmu sendiri. Jangan kau biarkan orang lain mengendalikanmu, mengendalikan kehidupanmu.
Yang perlu disyukuri adalah engkau memiliki orang tua yang telah mengasuhmu dengan baik dan penuh kasih sayang. Yang selalu mendampingi dan membimbingmu dalam menjalani dan merencanakan masa depanmu. Mengingatkanmu bila engkau keliru, menegurmu bila engkau salah dan memujimu bila engkau telah berusaha dengan keras.
Tidak begitu dengan kehidupan Bapakmu dulu. Yang terlahir dari keluarga petani sangat sederhana. Yang berada jauh di pedalaman, jauh dari mana-mana. Keterbatasan membuat Bapak tidak bisa bermimpi, apalagi bermimpi tentang kehidupan yang diinginkan di masa depan nanti. Menjalani kehidupan nyaris tanpa bimbingan, apalagi perencanaan. Menjalani kehidupan seolah dilepas begitu saja di tengah hutan belantara, tanpa kompas apalagi peta, yang dapat menjadi penunjuk arah. Kehidupan dijalani dengan mengikuti kata hati dan coba-coba.
Bersyukurlah selalu kepada Tuhan. Mintalah petunjuk hanya kepada-Nya, agar kehidupanmu penuh dengan keberkahan. Doa dan harapan kami selalu menyertaimu…
***
Ketika membaca ucapan selamat ulang tahun yang saya tulis kemarin, putri saya terlihat sesenggukan, berlinang air mata. Ibunya lalu bertanya, “Kamu kenapa?”.
“Aku terharu…”, jawabnya. “Aku selalu terharu kalau membaca yang seperti ini...”, sambungnya lagi.
“Ya sudah… berhenti nangisnya…!”.

SELAMAT ULANG TAHUN

Hari ini, putri saya berulang tahun yang ke delapan belas. Delapan belas tahun rasanya begitu cepat berlalu.
Masih terbayang jelas saat-saat saya mengantar istri menempuh perjalanan jauh dari Surabaya ke Mataram dengan kehamilan besar yang mendekati masa melahirkan. Perjalanan darat yang sungguh melelahkan, apalagi bagi seorang calon ibu yang sedang hamil besar. Semua posisi badan jadi serba salah, duduk tidak nyaman, berbaring pun tidak nyaman pula.
Begitu pula saat-saat menjelang melahirkan yang membuat semua keluarga tidak tidur semalam, menunggu kelahiran yang datangnya tepat saat subuh menjelang. Suara tangisnya yang keras masih terngiang jelas, membangkitkan kegembiraan bagi semua yang mendengarnya.
Masih terbayang nyata betapa rewelnya bayi kami dihari-hari awal kelahirannya. Hanya mau tertidur bila digendongan saja. Setelah terlihat pulas, yang menggendong ingin beristirahat sejenak, lalu dicoba ditidurkan di kasur. Baru saja gendongan itu menyentuh kasur, tangisnya kembali meledak, seolah berteriak tak ingin turun dari gendongan.
Kini, putriku telah delapan belas tahun. Dia telah dewasa, bukan lagi anak-anak. Dia telah cakap bertindak dimata hukum. Semua perbuatan yang dipilih dan dilakukannya membawa konsekuensi hukum sebagaimana orang dewasa.
Sejauh ini, sebagai orang tua, saya sangat bangga kepadanya. Bukan bangga atas apa yang telah dicapainya, tetapi bangga atas apa yang telah diusahakannya.
Ketika umurnya telah memasuki tujuh belas tahun, tiba saatnya kewajiban memiliki KTP, dia pun mengurusnya di Kelurahan dan di Kecamatan. Begitu pula ketika harus memiliki SIM, dia pun kembali mengurusnya sendiri. Menjalanai tes-tes untuk membuat SIM tanpa mengandalkan intervensi orang tua maupun pihak lain. Dia jalani saja prosesnya, meskipun harus mengulang dua kali ujian, karena tidak lulus pada ujian pertama.
Terakhir kali, dia telah berusaha dengan sangat keras untuk mencapai beasiswa untuk pendidikannya. Jalan terjal dan melelahkan telah dilaluinya, jalan yang mengarahkan alur masa depannya...