Rabu, 03 Agustus 2016

SELAMAT BERBAHAGIA ADIKKU...



Pulang kampung lebaran kali ini memang bukan tanpa alasan. Alasannya bukan karena lebaran, tetapi adik kami yang bungsu hendak mengakhiri masa lajangnya, persis satu minggu setelah lebaran. Tidak ada pilihan lain bagi kami kakak-kakaknya yang jauh dirantau, harus pulang dan berlebaran di kampung halaman.
Kami tujuh bersaudara, dua laki-laki dan lima perempuan. Dua tinggal di kampung, sisanya merantau. Jakarta, Padang Panjang, Jember, Surabaya dan Denpasar, Bali. Dua  saudara yang tinggal di kampung adalah yang sulung dan si bungsu.
Momen ini sangat membahagiakan, karena tanggung jawab orang tua kami untuk mengantarkan anak-anaknya berumah tangga telah ditunaikan semua. Membahagiakan juga karena kami tujuh bersaudara dapat berkumpul bersama melepas rindu. Sudah lama sekali kami bertujuh tidak berkumpul seperti ini.
Kini, si adik bungsu telah menemukan tambatan hatinya. Ia telah yakin dengan pilihannya. Kami iringkan doa untuknya. Semoga langgeng hingga akhir hayat memisahkannya. Selamat berbahagia adikku..

HARI RAYA DI KAMPUNG HALAMAN




Lebih dari dua puluh tahun sejak lulus SMA, saya tidak pernah berlebaran di kampung halaman. Kalau pulang kampung biasanya pas ada momen-momen tertentu, selain momen hari raya. Selain karena jarak yang jauh antara rumah dengan kampung halaman, alasannya adalah karena ruwetnya perjalanan saat-saat menjelang lebaran dan harga tiket yang naik lebih dua kali lipat dari harga biasa.
Lebaran tahun ini, meskipun tidak pas hari raya pertama dan kedua, saya dapat menikmati kembali suasana hari raya di kampung halaman.  Saya diingatkan kembali pada suasana berhari raya yang sudah terlewatkan lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Ucapan-ucapan permohonan maaf yang biasanya diucapkan “Mohon maaf lahir dan batin”, disini cukup disingkat.
“Laer baten yo, Kang!”
“Iyo, podo-podo”, dijawab dengan singkat pula.
 Ucapan maaf-maafan versi singkat ini biasanya hanya digunakan kepada yang muda-muda saja. Kalau ditujukan kepada yang lebih tua, misalnya orang tua sendiri atau kakek nenek,  digunakan versi panjang dan lengkap. Plus dengan bahasa yang lebih halus pula.
“Ngaturaken sugeng riyadi, sedaya kalepatan kula nyuwun pangapura. Angsal dining syara’ mboten angsal dining syara’, mugi-mugi Allah Ta’ala sageto nglebur dosa kula lan dosa Bapak ing dinten riyaden meniko”.
Ucapan maaf demikian ini, biasanya mendapat jawaban dengan versi lengkap pula.
“Iyo, Le. Wong tuwo okeh lupute, seng enom okeh ngapurane. Mugi-mugi  Allah Ta’ala nglebur dosaku lan dosamu  ing dina riaya iki”.
Selama ini, saya mendengar jawaban ucapan maaf hari raya ini hanya melalui telepon saja. Tetapi kali ini saya bisa mendengar langsung dari mulut Bapak saya. Sesaat setelah mendangar jawaban Bapak, perasaan saya langsung mengharu biru, haru bahagia. Bahagia karena Bapak masih dikaruniai badan yang sehat diusia seperti ini.

Sabtu, 23 Juli 2016

DONOR DARAH




Ketika awal-awal Ibu menderita sakit tahun 2007 lalu, saya pulang menjenguknya. Saat itu Ibu dirawat di RSU Padang Panjang. Dirawat disana agar lebih dekat dengan tempat tinggal kakak saya. Keadaannya kemudian agak membaik, saya pun pamit kembali ke Jawa.
Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa keadaan Ibu semakin parah dan harus dirujuk ke RS. M. Jamil, Padang. Dokter mengatakan bahwa Ibu menderita penyakit Leukemia atau Kanker darah.  Belakangan baru saya ketahui, Leukemia atau kanker darah terjadi akibat produksi sel darah putih yang terlalu cepat sehingga banyak sel yang masih belum terbentuk secara sempurna.
Ketika itu dokter menyarankan agar Ibu di transfusi darah. Kakak saya segera menghubungi PMI, untuk memperoleh darah yang diperlukan. Sayangnya, stok darah yang sesuai di PMI waktu itu sedang menipis. Selebihnya, harus mencari tambahan dengan membawa pendonor sendiri.
Kakak berusaha mencari pendonor sendiri, dengan cara mendatangkan orang-orang dari desa kami ke Kota Padang untuk dicek darahnya. Saya membayangkan betapa beratnya pekerjaan itu. Jarak desa kami dengan Kota Padang lebih dari tiga ratus kilometer. Mendatangkan orang-orang untuk mendonorkan darahnya dengan jarak sejauh itu, bukan pekerjaan yang ringan. Masalahnya, tidak semua orang yang didatangkan itu darahnya cocok dan layak untuk didonorkan.
Saya menghargai dan menghormati usaha saudara-saudara saya untuk menolong dan menyelamatkan Ibu. Saya sendiri, yang berada jauh terpisah ribuan kilometer, hanya mampu berdoa.
Pada akhirnya, kehendak  Allah jua yang berlaku. Keadaan ibu makin kritis. Tak lama kemudian, Ibu pergi meninggalkan kami untuk selamanya.
Mendapat kabar bahwa keadaan Ibu semakin kritis, saya putuskan segera pulang. Harapan saya setidaknya, dapat menemani Ibu diakhir-akhir hayatnya. Namun apa daya, perjalanan jauh tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan.  Saya tiba di rumah ketika orang-orang sedang membaca tahlil untuk mendoakan Ibu.
Ketika itu saya berfikir, seandainya banyak orang berdonor sukarela, tentu stok darah di PMI tidak sampai menipis. Seandainya stok darah tercukupi, tentu beban saudara-sudara saya tidak perlu sekeras itu untuk mencari pendonor. Seandainya, transfusi itu dapat terus dilakukan, tentu masih ada harapan Ibu untuk bertahan. Setidaknya, kepergiannya tidak secepat itu.
Sejak itu, saya bertekad untuk menjadi pendonor darah. Pendonor sukarela secara rutin. Agar kejadian yang menimpa keluarga kami tidak terjadi pada orang lain.
Hingga kini, tekad itu masih tetap kuat dan terlaksana dengan istiqomah.
Mari berdonor….